INFO KOSIM
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2014

Untuk Kawan-kawanku di Fotosintesa

Oleh : Yadi Supriadi LoveAina
SALAM KALBU

Keinginan dan kerja keras kawan-kawan sangat saya apresiasi adalah sebuah wujud riil untuk membangun kesenian khususnya teater di Karawang. Mari kita sepakati bahwa proses yang baik tentunya akan menghasilkan karya seni yang baik pula. Lalu waktu bergerak dan mempertemukan disbudpar yang terdesak oleh realisasi even yang harus diselesaikan sampai akhir tahun ini, kemudian bertemu dengan kawan-kawan selalu menggebu untuk bergerak dan pertemuan ini menjadi sebuah peluang untuk digarap walaupun dengan keterdesakan waktu. Namun saya juga sangat yakin dengan kemampuan kawan-kawan semua untuk menggarapan kegiatan ini.

Terbentuklah Festival Teater Sunda Karawang 2014 kalau dilihat dari nama kegiatan sangat mengakomodir seni dan budaya Karawang yang berbahasa sunda tidak seperti sunda priangan, sunda Karawang berakulturasi dengan bahasa betawi, bahasa jawa pantura dan sunda banten sehingga banyak bahasa sunda wewengkong Karawang. Lalu Karawang menjadi kota berkembang sehingga banyak pendatang yang tinggal di Karawang dan hal ini menjadi kekhawatiran bersama dalam hal pelestarian aset seni dan budaya Karawang yang dikhawatirkan tergerus pembangunan. Ini yang menjadi dasar ide festival teater sunda Karawang 2014.

Penyelenggara meramu dan mengkonsep kegiatan yang kurang dari satu bulan dalam persiapan dan akhirnya tergagas Dramatisasi puisi yang pernah juga diselenggarakan di Karawang. Karena dramatisasi puisi dianggap mudah dan bisa cepat proses penciptaannya. Dramatisasi puisi yang mengangkat 5 naskah berbahasa Indonesia. Untuk menyambungkan judul acara dengan realisasi event dalam dramatisasi puisi ada proses pendramaan dan untuk menyambungkan unsur sunda dengan pilihan puisi dengan mengadegan musik, artistik dan kostum yang harus nyunda. Saya pikir ini kreatif dalam sebuah siasat medan dalam situasi terbatas dan mungkin sulit berkondinasi dengan kawan-kawan aktivis teater dan seniman Karawang.

Mari kita saksikan bersama peristiwa teater akan tercipta pada tanggal 21 Desember 2014 di Kampung Budaya Karawang yang akan diikuti oleh para kreator pelajar se Karawang, akan berdatangan para apresiator baik pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum akan hadir pula aktivis teater seniman Karawang bahkan luar Karawang mungkin juga hadir. Para dewan juri pakar teater tentenya, pemerintah daerah dan penyelenggara akan menyaksikan festival teater sunda Karawang 2014. Semua yang hadir dalam ritual teater ini akan menyaksikan dan memahami tentang teater yang sedang berlangsung hingga dewan juri memutuskan juara. Hasil ini akan menjadi pemahaman dan tolak ukur bagi kawan-kawan peserta dan masyarakat umum bahwa festival teater itu harus harus seperti ini. Lalu para juara ini akan membawa karya mereka ke kabupaten sebelah atau bahkan mengikuti festival teater di jawa barat atau bahkan ditingkat nasional.

Untuk itu kepada penyelenggara saya titip efek festival ini dan harus bertanggungjawab tidak hanya Kalau sekedar menjalankan proyek pemerintah setelah itu menikmati kopi berdiskusi kesenian bermalam minggu disebuah cafe kaum kapitalis. Berkesenian sejatinya menjaga nilai-nilai luhur berkebudayaan ( moral, etika dan spiritual ) dengan kreatifitas sebagai media solusi bagi pelajar yang terjebak penjara kurikulum pendidikan, teater sebagai solusi dalam penyeimbang otak yang melulu dijejali sains. Dengan teater pelajar mampu berkreatif mempelajari budaya Karawang dan sekaligus berefresing yang edukatif dan berfrestasi dalam membangun karakter bangsa.

SELALU DI HATI

Selasa, 24 Juni 2014

CATATAN SUDUT


FESTIVAL TEATER PELAJAR (FTP) 1 DPD KNPI KABUPATEN KARAWANG

Oleh : Abah Sarjang

Festival teater pelajar baru saja selesai dilaksanakan, riuh-rendah para pendukung, tangis kekecewaan, airmata kebahagiaan, teriakan dan yel-yel kini telah berpulang kembali pada sepi.

Selamat untuk para pemenang, semoga kemenangan ini menjadi bahan bakar yang memompa mesin semangat untuk terus berkarya lebih baik lagi. Sedangkan bagi mereka yang belum berhasil, saya juga mengucapkan selamat. Kegagalan kawan-kawan bukan karena hasil karya yang jelek tetapi pesaing anda bukan pesaing kelas teri. Kalah melawan hiu lebih terhormat daripada melawan teri.

Perkembangan teater saat ini memang cukup menggembirakan, walau tentu saja, masih ada kekurangan-kekurangan yang perlu dikaji sebagai evaluasi, baik oleh panitia penyelanggara maupun oleh peserta. Kalau dilihat dari segi kuantitas peserta sangat menurun peserta kali ini hanya diikuti oleh 10 kelompok belajar tetapi secara kualitas menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan mungkin karena turun gunungnya “sutradara-sutradara senior” yang biasanya cukup menjadi pengamat, kritikus dan komentator, kali ini terjun langsung menjadi peserta. Ini menggembirakan. Dengan turunnya sutradara-sutradara jago berkelas nasional, membuktikan bahwa senior teater di karawang memiliki kepedulian yang serius kepada juniornya. Mereka tidak melulu mengkritisi dan mengkomentari, mereka terjun langsung menjadi peserta, berjibaku dan memeras segala daya. Sehingga setiap penampilan para peserta memiliki karakter-karakter kuat dan terarah.

Sebuah penyelanggaraan tentu tidak luput dari pro dan kontra. Untuk yang pro tidaklah menjadi masalah, sedangkan yang kontra tentu cukup memusingkan pihak panitia. Kotradiksi tidak harus dipandang negatif, justru dengan adanya kontradiksi kita menemukan kelemahan-kelemahan sebagai bahan kajian bagi penyelenggaraan selanjutnya.

Juri dalam hal ini, adalah orang-orang yang ditunjuk untuk menentukan siapa yang jadi juara, siapa yang harus tersisih. Tentu tidak luput dari protes ketidakpuasaan. Namun ketika kesepakatan telah bulat dan surat keputusan telah di tandatangani maka itulah hasil akhirnya. Dengan catatan juri tidak ditumpangi oleh unsur kepentingan dan unsur keberpihakkan siapapun. Tentunya ada beberapa aspek pertimbangan yang melatarbelakangi keputusan juri, selain pementasan secara keseluruhan bakat dan kesungguhan pemain juga merupakan satu bahan pertimbangan alainya yang mendukung penilaian.


Yang patut disayangkan untuk festival kali ini adalah pemilihan naskah yang kurang tepat, saya sependapat dengan Semi Ikra Anggara salah satu juri festival. Semestinya naskah yang dipilih, kalau mau realis seharusnya naskah-naskah yang ada hubungannya dengan karawang, isu-isu yang dekat dengan masyarakat atau permasalahan-permasalahan lainya yang ada di karawang. Tetapi kita juga memaklumi bahwa penulis naskah teater di karawang hanya sedikit. Panitia sangat kekurangan referensi naskah, ini catatan buat kita. Alangkah baiknya sebelum festival diadakan, kita mengadakan dulu lomba menulis naskah dengan demikian kita memiliki tabungan naskah. Selain itu dengan adanya lomba menulis naskah kita memancing para penulis muda di karawang untuk memperlihatkan karyanya. Siapa tau dengan adanya pancingan lomba, akan bermunculan bibit-bibit berbakat yang selama ini terpendam.

Selasa, 09 Oktober 2012

Aktor Harus "Menjadi "Bukan "Seperti"




Hendra WP
Menanti fajar terbit diufuk timur tanpa mata terpejam, sementara cacing-cacing di dalam perut menangis menunggu makanan, ayam jantanpun terdengar berkokok. Hari itu adalah pertemuan yang sangat berharga bisa berhadapan langsung bersama aktor membahas tentang sekelumit perasaan di saat pertunjukan berakhir. Masing-masing memiliki perbedaan pikir dan rasa. Hal ini menjadi ilmu yang sangat berharga bagi penulis, sebab pengalaman itu adalah guru yang terbesar. Dalam proses keaktoran, pengalaman itu menjadi kekayaan diri seorang Aktor. Jangan sekali-kali merasa puas dengan apa yang ditemukan dalam realitas sosial, cukup merasa bangga dengan apa yang didapatkan, bukan berarti kebanggaan itu dijadikan suatu kesombongan, akan menenggelamkannya pada kesombongan.
Aktor tidak hanya menghafal dialog dalam naskah atau menggerakkan tubuh fisiknya begitu saja. Melainkan bagaimana merangsang alam imajinya melalui perenungan lalu merasakannya hingga menemukan makna yang tersembunyi di dalamnya. Aktor tidak hanya sebatas “SEPERTI” tetapi harus “MENJADI”. Kalau hanya sebatas seperti yang muncul hanya kepalsuan, sama halnya ruang kosong yang hampa. Jika aktor menjadi, ruang kosong yang hampa terlihat menjadi hidup. Sebab inner kekuatan dari dalam tubuh Aktor memancar mengisi ruang-ruang kosong itu. Sehingga emosi penonton terbawa oleh irama atau suasana permainan.
Bakat tidak menunjang sukses dan tidaknya seseorang tanpa didukung oleh kemauan besar. Dunia seni khususnya teater tidak memandang apakah ia berbakat atau tidak, apakah sebelumnya ia berpengalaman atau tidak, yang harus diperhatikan dan menjadi prioritas utama adalah menghargai proses kreatif. Terutama penghargaan terhadap waktu, kemauan, semangat dan rasa ingin tahu yang besar, sudah barang tentu apa yang ingin dicapai pasti akan berada dalam genggaman. Dalam dunia Akting jangan mengejar estetika atau keindahan, melainkan pengejaran kebenaran terhadap karakter tokoh, melalui analisis tiga dimensi tokoh. Ketika menemukan kebenaran itu, estetika atau keindahan akan muncul dengan sendirinya..oleh sebab itu jangan sekali-kali hanya berpikir, tetapi rasakan apa yang anda perbuat... pikir dan rasa bagai lampu dan saklar. apabila pikir dan rasa menyatu mengalir ke tubuh fisik maka anda nampak “Menjadi” bukan “Seperti”.
salam teater

Kamis, 04 Oktober 2012

TRADISI LAYAK DAN TIDAK LAYAK

Abah Sarjang
Membaca tulisan Harry Baskara yang dimuat di Radar 3 Oktober 2012 cukup menggelitik dan merangsang saya untuk ikut berkomentar.


Berbicara tentang tradisi menurut pemahaman kami, tentu tidak akan sama dengan apa yang dipahami oleh  Kang Harry. Tradisi menurut kami adalah adat istiadat yang berkembang di masyarakat, menjadi kebiasaan yang dilakukan secara kolektif dan turun temurun.  Jika pementasan yang dipertontonkan oleh siswa-siswi  pada Festival Teater Tradisional Tingkat Pelajar Se-Kabupaten Karawang yang baru lalu (27-29 September 2012) menampilkan sentuhan tradisi, namun sentuhan tradisi tersebut tidak sesuai dengan harapan kang Harry, jangan terlalu kecewa dan sakit hati. Sebagai orang tua kita harus “legowo” dan banyak introspeksi.  Jangan salahkan mereka yang tidak mampu memahami tradisi secara benar, tapi justru orang tua yang terlalu meng-eksklusifkan tradisi . Perlu diingat bahwa tradisi juga berinteraksi dengan kekinian, jika tradisi tidak mampu berinteraksi dengan kekinian , memaksakan diri untuk bertahan di ranahnya dan “keukeuh” dalam pakemnya maka bersiap-siaplah untuk menggali kuburan sendiri.

Kami  (KOSIM, PELANGI, BLANKAR, TEGAS, dan tetaer-teater  “kampungan”  lainnya yang berdiri di luar sekolah) terhitung sejak tahun 2000 hingga sekarang merayap membangun teater  dengan berjalan kaki, mencoba menawarkan teater ke sekolah-sekolah, melakukan pementasan di jalanan, di pinggir-pinggir gedung, bahkan di rumah-rumah kosong. Lalu sekarang setelah teater memasuki ruang-ruiang kelas menyebar ke seluruh sekolah-sekolah dipelosok Karawang, bermunculanlah para kritikus, komentator, kurator, dan para ahli “cawad”. Berbicara lantang tentang perteateran di Karawang. Ada yang bilang jago kandang-lah, ada yang bilang tidak sesuai dengan hukum-hukum teater-lah, dan berbagai komentar negatif lainnya.

Sekarang ketika perteateran di Karawang mulai bangkit dan diakui sebagai salahs satu masyarakat seni, seolah-olah menjadi bola emas yang diperebutkan. Sebetulnya kami memang bodoh, pengetahuan kami tentang dramaturgi sangat minim, apalagi tentang hukum-hukum perteateran  yang berlaku secara akademik, sama sekali kami buta. Tetapi kami inghin berkesenian, kami ingin berkarya, dan kami ingin berbuat sesuatu untuk Karawang.

Saya (penulis) sebagai salah satu dewan juri, kebetulan naskah saya menjadi pilihan peserta dan kang Harry menganggapnya sebagai naskah yang ngambang. Salah! Naskah tersebut sebetulnya bukan ngambang, tetapi sama sekali tidak layak ditampilkan. Kalau panitia memaksa menampilkan “Wasiat Sang Koruptor” dan para peserta banyak yang memilih naskah tersebut, berarti semua peserta yang memainkan naskah “Wasiat Sang Koruptor” sama sekali tidak layak ditampilkan, dan terbukti layak atau tidak layak bukan tujuan kami. Tujuan kami adalah berkarya. Itulah cara kami berkesenian, itulah cara kami berteater. Kalau suka silakan tonton, kalau tidak silakan pulang. Kami akan tetap berkarya dan berkesenian. Dulu kami marjinal, terkucil dan tersisih kalau sekarang dimarjinalkan lagi, itu hal yang biasa dan kami akan terus berkarya.

Untuk TESNIKA yang menjadi juara umum dalam festival, tentu bukan saya yang menentukan. Saya hadir hanya sebagai juri pelengkap saja, ada banyak juri-juri lain yang kredibilitas dan kejeliannya tidak diragukan lagi. Mereka mampu menilai mana yang layak mana yang tidak. Jadi kalau sekolah Kang Harry tidak masuk nominasi, bukan kesalahan naskah yang “ngambang”, tetapi Dewan Juri yang sepakat untuk menganggapnya tidak layak.

Penulis adalah pekerja seni.




Abah Sarjang

Senin, 10 September 2012

Bravo Teater

Berteater itu jangan berfikir besok atau lusa kita akan jadi seorang seniman. Namun bagaimana kita berusaha menyeimbangkan fungsional otak kiri dan kanan kita yang mampu membangun sebuah karakter/kepribadian dengan mengaktualisasikan diri dalam berteater ataupun beror-ganisasi yang nantinya akan berguna dalam kehidupan nyata bagaimana kita menjadi orang yang berani dalam bertindak mengusung kebenaran, kejujuran terhadap diri sendiri, kepekaan dan solidaritas terhadap orang sekitar kita yang sesuai dengan kepribadian bangsa kita yang saat ini mulai terkikis oleh modernisasi. Bahwa hidup ini sejatinya tidak seperti bermain game on line yg selalu menuntut kemenangan dan slalu menghantam orang sekitar dalam mewujudkan ke egoisan kita.

Namun kita dalam hidup seyogyanya bersabar dalam kesusahan dan bersyukur saat mendapat-kan rizki. Pembelajaran ini akan kita dapatkan dalam aktivitas kita di teater yang mencoba memainkan atau memerankan peran kemanusiaan yang relevan dengan ke-budayaan bangsa kita yang syarat dengan norma dan adat-istiadat yang menga-rahkan pada sejatinya kehidupan. Tontonan teater akan menjadi tuntunan bagi para penikmatnya begitu juga bagi para pelaku teater akan menjadi media dalam mem-bangun karakter/kepribadian menjadikan diri kita orang yang tangguh dan kuat bukan bermental tempe atau seorang pecundang. Bravo teater.

Biodata : Yadi Supriadi (Kang Pitung) 
Lahir Karawang, 06 mei 1981 
Aktivitas seni : Teater pelangi Karawang, Komunitas Musikalisasi Puisi Alkautsar Karawang, KOSIM.